Minggu, 19 Januari 2020

Luis Leeds, Driver F4 Australia-Indonesia Jadikan Rio Haryanto Panutan

Sebagai generasi pebalap single seater zaman now, Luis Leeds ingin teruskan kiprah Rio Haryanto di F1.

RR Ukirsari Manggalani
cloud_download Baca offline
Luis Leeds, driver F4 berdarah Indonesia-Australia yang ingin berlaga membawa bendera Merah Putih [Suara.com/Oke Atmaja].
Luis Leeds, driver F4 berdarah Indonesia-Australia yang ingin berlaga membawa bendera Merah Putih [Suara.com/Oke Atmaja].

Mobimoto.com - Mobimoto.com memperoleh kesempatan eksklusif buat ngobrol langsung bersama Luis Leeds, juara CAMS Australian Formula 4 Championship 2019. Berdarah paduan Indonesia - Australia, lajang kelahiran 6 Maret 2000 ini baru saja menghadap Menteri Pemuda dan Olah Raga, Zainudin Amali.

Tujuannya adalah permohonan dukungan untuk bertanding membawa bendera Merah Putih di pentas Formula Two (F2) serta adanya tawaran development programme tim Williams F1.

Lajang berusia 19 tahun dan bernama lengkap Luis William Mahendra Leeds ini menyatakan salut kepada Rio Haryanto sebagai driver F1 pertama Indonesia.

"Sayangnya, dalam waktu sedemikian singkat, belum sempat membuktikan keseluruhan skill, Rio Haryanto mesti mengakhiri kiprahnya di F1," kata sulung dari tiga bersaudara (Luis, Amelia, Jonathan) ini.

Luis Leeds mendapatkan tawaran dari tim Williams F1 untuk development programme yang memberikan akses persiapan balap ke pentas F1 [Suara.com/Oke Atmaja].
Luis Leeds mendapatkan tawaran dari tim Williams F1 untuk development programme yang memberikan akses persiapan balap ke pentas F1 [Suara.com/Oke Atmaja].

"Padahal siapa pun yang bisa tembus ke balap F1 berarti bagus. Namun dalam komunitas motorsport, para driver minoritas belumlah mendapat penghargaan atau dikenal secara luas. Para pebalap asal Eropa, media, race manager, belum mengenali nama-nama kami sebagai driver asal Indonesia. Apalagi untuk Formula Two (F2), sejak empat tahun lalu hanya ada Sean Gelael sebagai satu-satunya wakil Indonesia. Kemudian kita memiliki Rio Haryanto untuk F1," lanjutnya.

Hal inilah yang menjadi salah satu alasan Luis Leeds untuk terus balap, hingga bisa menembus jenjang tertinggi balap single seater. Yaitu pentas F1.

"Dengan Sean Gelael, saya sudah sempat berkomunikasi via media sosial. Sayangnya, malahan belum ada kesempatan untuk ngobrol langsung dengan Rio Haryanto," tukas Luis Leeds yang sedang sibuk menantikan keputusan dari Menpora, mengingat deadline development programme dari tim Williams F1 akan tiba pada 1 Desember 2019. Konsekuensinya, semua dokumen dan dukungan pendanaan mesti dituntaskan sebelum tanggal itu.

"Jujur saja, saya ingin bertemu Rio Haryanto. Ia adalah sosok, kepada siapa saya ingin mereplikasikan diri. Saya ingin mendapatkan wejangan dari dia, dan saya yakin Rio bisa menjadi mentor yang bagus di masa depan," tandas lajang penggemar karting sejak berusia 10 tahun itu.

Tentu saja, untuk menjadi penerus Rio Haryanto di pentas yang lebih akbar dari F2 nantinya, Luis Leeds juga membekali diri. Yaitu sudah pernah ikut serta dalam development programme tim Red Bulls Junior (2016) di Milton Keynes, England.

"Saat Rio Haryanto dahulu terjun ke F1, ia belum sempat terlibat di program-program pengembangan seperti ini. Padahal, program-program demikian sangatlah dibutuhkan sebagai pondasi," pungkasnya sembari berharap bisa memegang tongkat estafet dari Rio Haryanto sebagai driver F1 yang berlaga bersama Merah Putih.

Terkait

Terkini